Catatan Redaksi

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita, anda dapat juga mengirimkan artikel atau berita sanggahan dan koreksi kepada redaksi kami, sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat (11 dan 12) undang-undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email Redaksi atau Hubungi No telpon tercantum di bok redaksi

Iklan Disini

Breaking News

Tradisi Tayuban Warnai Puncak Merti Desa Kelurahan Purworejo

PURWOREJO – Kelurahan Purworejo menggelar acara puncak Merti Desa pada Sabtu malam (20/12/2025) di Aula Kelurahan setempat. Acara ini dimeriahkan dengan pertunjukan seni Tayuban yang dibawakan oleh Sanggar Tresno Laras dari Desa Sumber Agung, Kecamatan Grabag.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Yudhi Agung Prihatno, yang hadir mewakili Bupati Purworejo, menegaskan pentingnya menjaga tradisi ini. Menurutnya, Merti Desa bukan sekadar seremoni, melainkan wujud kecintaan terhadap bangsa dan daerah.

"Kegiatan Tayuban ini adalah warisan luhur yang menjadi identitas Kelurahan Purworejo. Saya mengajak seluruh warga untuk terus nguri-uri (melestarikan) peninggalan nenek moyang kita agar tidak punah ditelan zaman," ujar Yudhi dalam sambutannya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Fraksi PKB DPRD Purworejo, Rudi Hartono, memberikan apresiasi penuh. Ia memandang Merti Desa sebagai sarana syukur atas limpahan rezeki dan hasil bumi. Di tengah gempuran era digital, Rudi menilai tradisi ini justru menjadi media silaturahmi yang efektif bagi masyarakat.

Sejarah panjang Tayuban di Purworejo diungkapkan oleh Mustakim (Gus Takim). Berdasarkan catatan sejarahwan (Alm) Atas Danu Subrata, tradisi ini bermula dari perintah Bupati Hasan Danuningrat (Cokronegoro III) pada tahun 1904 kepada Sumo Ranurejo, Glondong Brengkelan pertama.
Asal-usul Tayuban ternyata berkaitan erat dengan pembuatan Bedug Pendowo Purworejo. Tahun 1832 di bawah pemerintahan Cokronegoro I, Simbah Kyai Yunus Irsyad menebang pohon jati raksasa di Desa Bragolan, Purwodadi.

Pada proses Evakuasi kayu jati tersebut sangat besar sehingga harus digelindingkan oleh puluhan pria menuju Alun-alun Purworejo. Untuk mengusir lelah, setiap jarak 500 meter, para pekerja dihibur oleh tarian wanita menggunakan sampur (selendang). Inilah yang menjadi cikal bakal kesenian Tayuban.

Gus Takim menjelaskan bahwa pemilihan bulan Rajab untuk menggelar Tayuban di wilayah yang dulu bernama Desa Brengkelan ini adalah bentuk penghormatan atas jasa Simbah Kyai Yunus Irsyad.

Secara filosofis, istilah Tayuban berasal dari kata "Toyib" yang berarti baik, bersih, dan tertata. Hal ini mencerminkan harapan agar kehidupan masyarakat setempat selalu berada dalam kebaikan dan keteraturan. (HH)

Mustakim

www.radar007.co.id
© Copyright 2022 - Radar007